For My Kingdom (Part 2)

Author : HaeKyo

Cast :

– Lady Louise

– LeeTeuk ~ Dennis

Black Knight:

– Lee Donghae ~ Aiden

– Kim Ki Bum (SHINee) ~ Key

– Ivana

– Lee Hyuk Jae ~ Spencer

– Kim Ki Bum (SuJu) ~ Trevor

Other Cast:

– Raja Dominicus

– Ratu Caverie

Kerajaan Anthoria :

– Raja Camidash

– Ratu Versa

– Tiffany (SNSD) ~ Tiffany

– Fagon

Kerajaan Madaeira:

– Raja Xaverius

– Ratu Aquillya

– Arvore

Rating: PG-15

Genre: Angst, Fantasy, Family, Sad

Length : Continues

Part : Part 1 |

Annyeong . . . FF ini bercerita tentang sebuah Kerajaan. Dan ini baru kali author buat FF Kerajaan. Jadi kalau bahasanya jelek, alur gak nyambung, trus gak dapet FEELnya. Tolong di maafin ya. Oh ya, maafin juga karena kebanyakan Cast dan namanya susah-susah, trus semua ini Author POV. So, Happy Reading ~~ ^^

-SSFF-

Cerita Sebelumnya

Setelah latihan, Louise berencana untuk mencari kakaknya. Namun, dia yakin bahwa kakaknya tidak mudah untuk ditemukan di tempat yang sangat luas ini. Di tengah perjalanan ia bertemu dengan Trevor atau Black Knigts yang paling dekat dengan Dennis. Ia akhirnya bertanya pada Trevor tentang keberadaan kakaknya.

Author POV

Louise mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru yang ada di halaman belakang kerajaan yang sangat ah~ bahkan bisa dikatakan super luas itu. Ia mencari-cari sosok kakaknya. Matanya berhenti pada satu titik dan mendekatinya.

“Dennis, aku ingin bicara denganmu.” Ucap Louise pada Dennis. Namun, sayang Dennis sama sekali tak merespon ucapannya. Louise mulai geram dan akhirnya is terpaksa menyeret kakaknya yang bisa dibilang berat itu.

“Louise apa yang kau lakukan, aku sedang bekerja.” Bentak Dennis pada Louise ditambah tatapan tajam dari matanya. Louise tak bergeming, ia benar-benar takut jika kakaknya sudah memasang wajah galaknya itu.

“Maaf, Dennis. Tapi aku hanya ingin mengetahui satu hal yang tak pernah kuketahui.” Kata Louise membuat dahi Dennis mengerut.

“Apa yg ingin kau ketaui dariku, Louise.” Tanya Dennis.

“Tentang Peristiwa 17 tahun yang lalu, peristiwa yang hampir merenggut nyawaku.” Dennis tertegun dia benar-benar kaget, “bagaimana bisa Louise tau tentang hal itu?”  batin Dennis.

“Bagaimana kau bisa tau tentang hal itu?”

“Kau tinggal menjawabnya saja, Dennis.” Ucap Louise dengan penuh penekan.

“Baiklah, aku akan menceritakannya padamu.”

FLASHBACK

Cavaldesh, tahun 1899

“Bawa semua wanita dan anak-anak masuk ke dalam kastil! Sisanya beri mereka senjata!” teriak Lord Dennis kepada prajurit manapun yang bisa mendengarnya, sambil menarik sebuah sharpin dari sabuk kulitnya.

Suara teriakan, tangisan, dan dentingan logam senjata memenuhi atmosfer kerusuhan itu. Para prajurit berseragam lengan merah di bawah rompi kulit hitam, berlarian ke segala arah memadati jalan di sekitar rumah-rumah dan toko penduduk. Para pria dipisahkan dari keluarganya lalu digiring prajurit kerajaan untuk diamankan ke dalam kastil yang berada di Cavaldesh pusat. Rumah penduduk terbengkalai begitu saja, bahkan harta benda tergeletak secara terang-terangan di atas meja, tidak dipedulikan pemiliknya. Air mata jatuh di setiap tanah Cavaldesh.

“Aiden!” teriak pemuda berambut emas bernama Lord Dennis itu, sambil menerobos kerumunan yang berlalu lantang.

“Ya, my  Lord?” seseorang bertubuh tegap bergegas menghampiri nya dengan tatapan waspada. Rambutnya ternoda oleh keringat, sementara tangan kirinya sudah siap dengan sharpin yang sama seperti milik Dennis.

“Aku ingin menginginkan beberapa tim penyerang menyebar di sekitar perbatasan Kerajaan Cavaldesh dan Anthoria. Kita butuh lebih banyak waktu untuk mengevakuasi penduduk dari Cavaldesh Timur dan Selatan. Di mana ayahku?” serunya dengan suara keras, berusaha mengatasi suara gaduh di sekitar mereka.

“Raja sedang bersama Black Knights yang lain di depan gerbang benteng.” Balas Aiden cepat “Akan segera kuperintahkan pasukan penyerang untuk menyebar. Detik berikutnya ia menghilang di balik kerumunan.

Dennis segera berlari menuju gerbang benteng menyusuri jalan setapak di sekitar rumah penduduk. Sesekali meneriakkan perintah kepada beberapa prajurit lain yang ia temui.

Ia ingin menghindari kerumunan orang yang berlalu lalang di jalan utama sehingga memilih untuk berjalan memutar desa Cavaldesh Pusat. Tidak ada seseorang pun di situ. Semuanya pasti sudah berkumpul di kastil atau berlari menuju gerbang benteng.

Tiba-tiba tanah di bawahnya bergetar pelab. Dennis menunduk mengamati kakinya dan secara mengejutkan dari tanah tersebut muncul sosok besar yang langsung menggigit dadanya.

“Aaakkkhhhhh!!” Dennis terhempas keras ke tanah didorong makhluk itu.

Mata perak kejam seekor serigala hitam sebesar dirinya bertemu dengan mata Dennis. Serigala itu menindih tubuhnya dan membenamkan kedua taringnya di dada Dennis dengan ganas. Dicobanya untuk mendorong mundur serigala itu, namun kedua kaki depan makhluk tersebut menekan Dennis kembali ke tanah dan semakin membenamkan taringnya hingga menghilang sepenuhnya di dada Dennis.

Pandangannya terblokir tubuh raksasa hewan itu, namun ia dapat mendengar suara jeritan pria di dekatnya, disusul gonggongan serigala-serigala lain yang marah. Beberapa dari mereka berlari melewati Dennis dengan langka cepat.

Dennis berkutat meraih sharpin di ikat pinggangnya dengan tangan kanan, sementara tangan yang lain mendorong makhluk buas itu. Tepat saat tangannya menemukan yang dicari, satang serigala kedua yang menancapkan taringnya setajam dua mata pisau pada pergelangan tangan Dennis dan merobek dagingnya. Dennis berteriak kesakitan. Sekarang ia sama sekali tidak bisa menggerakan tanganya.

Amarahnya meluap. Ditegakkannya dengan susah payah tabung hitam itu di bawah serigala yang menggigit tangannya, lalu di remasnya sekuat tenaga. Detik berikutnya, sharpinnya menembus dada serigala. Serigala tersebut mendengking kesakitan sebelum roboh di sampingnya. Serigala yang satu lagi masih berusaha merobek dadanya. Dennis menggertakkan giginya dan sekali lagi mengerang kesakitan karena ia berusaha untuk menusukkan sharpinnya ke serigala yang ada di depannya. Detik kemudian, serigala itu roboh di sampingnya.

-SSFF-

Teriakan kembali bergaung di langit. Kali ini berasal dari arah kastil. Dennis bersandar di dinding sebuah rumah kira-kira lima puluh meter dari tempat pertempurannya dengan para serigala. Diperiksanya luka di dada dan tangannya kanannya. Darah mengalir dengan derasnya tanpa berhenti. Dengan napas memburu menahan sakit, ia menekan dadanya yang terluka dengan tangan kananya, sementara tangan yang lain bersiap dengan sharpinnya. Ia pun berlari tetatih-tatih kembali ke arah kastil secepat yang ia bisa, melewati tubuh-tubuh yang malang berserakan berlumuran darah di sepanjang jalan menuju kastil.

“sial! Seharusnya aku tahu ini bakal terjadi.” Umpat Dennis dalam hati.

-SSFF-

Tumpukan mayat berserakan di tangga pualam depan pintu masuk kastil. Ada sekitar dua puluh serigala melawan sepuluh prajurit yang masih bertahan dengan susah payah, berdiri memunggungi pintu tersebut. Mereka tak sadar bahwa dua ekor serigala menghilang menembus ke dalam tanah dan bergerak menuju ke dalam kastil, mngincar orang-orang yang berlindung di dalamnya.

Suara geraman serigala-serigala marah terdengar jelas hingga ke Noble Hall tempat ribuan wanita dan anak-anak berlindung. Mereka duduk di atas setiap jengkal lantai kristal yang tersisa, membentuk beberapa kelompok yang terdiri dari lima orang ibu beserta anak anak mereka. Kemegahan ruangan raksasa itu terabaikan begitu saja. para ibu memeluk anak mereka erat-erat, mencoba menghilangkan suara teror yang menggema di luar.

Tiba-tiba dari atas tangga pualam hitam raksasa yang menjulang di hadapan pintu keluar, muncul seekor serigala hitam yang menembus permukaan lantai. Mata peraknya menyapu ruangan dengan buasnya. Hewan itu menggeram marah, taringnya tumbuh memanjang ke bawah.

Orang-orang berlarian histeris menuju ke arah pintu, namun serigala kedua muncul di mulut pintu. Keduannya menggeram dan maju perlahan, menyudutkan orang-orang. Hanya ada satu pintu keluar dan tangga utama yang menghubungkan ke lantai dua, yang saat ini dijaga oleh para makhluk itu. Para penduduk mundur perlahan ke sudut ruangan. Para Ibu mencabut sharpin dari saku depan mereka, bersiap untuk bertarung.

Kedua serigala itu tiba-tiba menerjang maju. Namun ia hanya mencengkram udara, karena ia sudah tak berada di situ lagi. Syukurlah sebelum serigala itu menyerang, datang seorang Black Knights wanita yang dengan cekatan mengatasi hal tersebut.

“Kalian bisa tenang sekarang. Dan sepertinya Lord Devont sudah mengendalikan masalah di luar.” Kata Black Kningth tersebut sambil membersihkan pedangnya pada bulu salah satu serigala.

Para pengungsi bernafas lega. Suara serigala-serigala di luar sudah tak terdengar lagi. Angin bertiup tenang untuk sementara ini.

Tiba-tiba pintu terbuka dan Dennis berlari masuk dengan tangan kiri mencengkeram sharpinya yang berlumuran darah segar. Matanya menagkap sosok serigala-serigalayang sudah tumbang di lantai dan ia menghembuskan nafas lega.

“Kukira aku sudah terlambat.” Senggalnya dengan susah payah.

Deselipkannya kembali sharpinya pada sabuk. Tagan kirinya bertumpu pada kakinya untuk beristirahat sejenak, namun mengutuk pelan ketika lukanya tanpa sengaja tertekan olehnya. Kini Black Knight wanita itu telah berada di sambpingnya.

“Astaga, Anda baik-baik saja Lord Dennis?” tanyanya cemas. Dada Dennis tampak gelap dengan warna merah pekat.

“Ya.” Ucapnya singkat sembari menggertakan gigi menahan sakit. Ia kembali menekan lukanya, namun kini lebih keras.

“Dimana Louise? Apa dia masih di atas? Apakah tidak lebih baik jika dia berada di sini daripada di atas? Setidaknya ada banyak orang yang dapat berjaga di sini. Aku sudah membunuh serigala-serigala yang ada di luar, namun itu tidak menjamin, bukan?” Dennis berjalan menuju anak tangga dan mulai berjalan menaikkinya menuju lantai dua. Dimana terdapat adiknya Louise di sana.

“Louise.” Dennis berteriak ketika ia membuka kamar Louise. Namun kemudian ia bisa bernafas lega karena adiknya yang masih berumur 1 tahun sedang tidur di kasurnya.

Ia berjalan mendekati Louise. Seketika saja sekelabatan bayangan melintas di hadapannya dan meraih Louise. Dennis dengan cekatan segera mengambil sharpinnya.

“Kita bertemu lagi, Lord Dennis.” Ucap orang tersebut. Namun Dennis tak memgindahhkan ucapannya, dan lebih memilih untuk segera menyelamatkan nyawa adiknya itu.

“Oopss . . . Kau terlalu gegabah dan tak memikirkan akibat dari tindakanmu tadi, ckckck.” Ejek orang itu sambil menunjukan seingaian jahat.

“TUTUP MULUTMU, FAGON.” Bentak Dennis pada laki-laki bernama Fagon itu.

“Cih, aku akan menutup mulutku setelah aku membunuh, Lady Louise. Adik kesayanganmu ini, Dennis

“Hentikan ocehanmu. Apa yang kau inginkan?”

“Membunuhmu dan serahkan kerajaan Cavaldesh pada Anthoria.” Ucap Fagon dengan enteng.

“Jika aku tak mau? Lebih baik, aku bertarung denganmu hingga mati daripada menyerahkan Kerajaan Cavaldesh.” Dennis dengan gerakan cepat mengayunkan sharpinya kearah Fagon yang berjarak sekitar 10 meter dari dirinya. Suara gesekan sharpin dengan baju besi milik Fagon terdengar sedikit nyaring. Dan akhirnya, pertarungan pun tak bisa dihindari lagi.

-SSFF-

“Kau tak kuat berdiri lagi, Dennis? Huh, padahal aku sudah berharap pertarungan ini akan berjalan dengan sangat lama. Tapi, ternyata aku salah. Kau terlalu lemah, hingga kau bisa aku kalahkan dengan sangat mudah.” Fagon berjalan mendekati Louise yang sedang duduk di lantai sambil memainkan pakaian yang ia kenakan.

“Berhenti di situ atau kau akan mati, Fagon!!” Teriak Dennis dengan suara seraknya. Namun sayang, Fagon sama sekali tak menghiraukannya dan dia semakin dekat dengan Louise.

Dennis berusaha berdiri sambil menahan sakit karena lukannya yang semakin parah akibat pertarungannya dengan Fagon tadi. Dengan segenap kekuatnnya ia berusaha menebaskan sharpinnya ke arah Fagon. Belum saja ia melawan, tangan besar Fagon telah berhasil memperparah lukannya. Dan akhirnya ia kembali tumbang. Fagon mendekat lalu mengangkat kakinya dan menginjak luka Dennis dengan sangat kasar.

“Aaaarrrrrrrggghhhhhhhh.” Erangan Dennis menggema di seluruh sudut ruangan tersebut. Kini ia tak bisa merasakan apa-apa, matanya terasa berat. Hingga akhirnya pandangannya menjadi buram dan . . . sepenuhnya gelap. Namun sebelum ia tak sadarkan diri, ia sempat mendengar suara Ayahnya sedang memerintah para prajurit untuk segera membunuh Fagon.

Flashback END

“Kau sudah tahu semuanya bukan? Semua rahasia yang selama ini kami sembunyikan.” Ucap Dennis. Louise hanya bisa diam tak berkutik setelah mendengar cerita masa lalunya. Ia sedikit merasa bersalah pada kakaknya karena telah mempertaruhkan nyawanya demi melindungi dirinya.

“Maafkan aku, Dennis. Dan seharusnya kau menyeritakan hal ini dari dulu, agar aku bisa menolak keputusan Ayah.” Ujar Louise, lirih.

“Semua ini sudah terlambat, Louise. Ayah tak mungkin merubah keputusannya dengan mudah. Lebih baik kau tetap berhati-hati saat pesta itu di mulai. Karena mungkin saja Putri dari Kerajaan Anthoria akan membalaskan dendam kakaknya, Fagon.” Dennis menepuk pundak Louise kemudian berjalan pergi.

-SSFF-

Louise membuka pintu kamarnya pelan lalu menyelinap di dalam keremangan cahaya mesterius dari lampu-lampu yang bergantungan di dinding. Ia melangkahkan kakinya dengan pasti menuju menara tertinggi milik Kerajaan Cavaldesh. Mengapa dia kesana? Ia hanya ingin bernegoisasi dengan Ayahnya, ia yakin Ayahnya pasti berada di sana. Karena tempat itu adalah tempat favorit Ayahnya.

Kini tibalah ia di depan pintu tangga berputar yang akan mengantarkannya menuju menara. Tangga tersebut cukup tinggi dan rumit, untung saja ada lentera gantung besar yang meneranginya. Dibukanya gagang pintu tersebut kemudian ia mulai berjalan menaiki tangga itu satu persatu.

-SSFF-

Louise telah sampai di puncak tangga itu. Ia mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru menara itu, mencari sosok gagah Ayahnya. Sorot matanya menatap sosok Ayahnya yang kini berdiri ujung kanan menara. Kakinya melangkah menuju sosok itu. Jarak beberapa langkah dari Ayahnya, ia mengentikan langkahnya.

“Ayah.” Panggilnya pelan namun masih bisa didengar oleh Ayahnya. Ayahnya yang mendengar panggilan seseorang pun membalikan badanya mengahadap ke sumber suara.

“Oh, Louise. Ada apa, Putriku.” Ujarnya lalu mencium kening Putrinya itu dengan penuh kasih sayang.

“A . . Aku ingin berbicara sebentar dengan Ayah.” Ucap Louise dengan gugup.

“Bicaralah, Ayah akan mendengarkannya.”

“Begini. Aku sudah mengetahui rahasia tentangku 17 tahun yang lalu. Aku tahu semuanya Ayah. Dan aku takut jika hal itu akan terjadi lagi. Jadi . . .”

“Jadi?”

“Aku harap Ayah mau membatalkan Pertemuan 3 Kerajaan itu. Aku mohon!!”

“Ayah tidak bisa Louise.”

“Tapi, Ayah. Aku tidak mau hal itu terjadi lagi.”

“Pertemuan ini tidak ada sangkut pautnya dengan peristiwa itu. Jadi, Ayah minta maaf karena Ayah tidak bisa membatalkannya.”

Louise menghela nafas berat, kemudian ia tersneyum kecil.

“Kalau begitu, aku pergi. Selamat malam, Ayah.” Louise berjalan meninggalkan Ayahnya dengan raut wajah kecewa. Di dalam hatinya ia berkata, “Dennis, aku minta maaf. Seharusnya aku bisa menghentikan semua ini. Tapi . . . sekali lagi aku minta maaf jika hal itu akan terjadi lagi. Dan kau akan mempertaruhkan nyawamu lagi. Aku benar-benar minta maaf.”

-SSFF-

_ 1 hari menuju pertemuan besar _

Satu hari menuju pertemuan besar 3 Kerajaan. Kerajaan Cavaldesh mulai melihatkan kesibukannya menyiapkan semua keperluan untuk pertemuan besar-besaran itu. Tempat paling sibuk adalah Ball Room. Mengapa? Karena ruangan itulah yang akan dijadikan tempat pertemuan.

Baiklah, sekarang kita lihat keadaan Dennis. Dennis, seperti biasanya dia selalu disibukkan dengan semua kegiatannya. Secara, dia adalah penerus tahta kerajaan Cavaldesh. Maka dari itu dia selalu seperti itu. Sibuk, sibuk dan sibuk.

Di sisi lain ada Louise dan Aiden yang hanya sibuk dengan urusan pedang mereka. Sebenarnya Louise tidak mau berlatih hari ini. Toh, walaupun ia tak berlatih ia tetap bisa menggunakan pedang itu dengan baik. Tapi karena Dennis yang memaksanya dengan embel-embel untuk berjaga dari serangan Anthoria, akhirnya Louise mau melakukan hal itu.

-SSFF-

“Cepat!! Letakkan kursi itu di sana!!” Teriakan lantang Spencer menggema di dalam Ball Room ini. Semua pekerja benar-benar serius mempersiapkan semua ini. Namun, di sisi lain tetap ada keraguan akibat peristiwa itu. Setiap rinci peristiwa itu masih tetap melekat di otak mereka.

TBC

Hhehe~~ Part 2 selesai, yyeye~~~

Entah ini bagus atau tidak Author juga tidak tahu, hanya Readerslah yang bisa menilainya. So, setelah membaca tolong di comment ya ^^

Iklan

Leave Your Comment ~~ ^^

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s