Sunset

Tittle      :               Sunset

Author   :               hyebum98s

Cast       :               Choi Minho | Park Jiyeon

 

———————————————————————————————————————————————————————– 

Walau kita dekat, tak berarti kita dekat.

Walau tangan kita bisa saling menggenggam satu sama lain, belum tentu hatimu bisa pula kugenggam.

Walau aku mengenalmu, belum tentu kau juga mengenalku.

—–

Terpaan angin lembut menyapu ujung – ujung rambutku yang sudah mulai memanjang. Maklum saja, sudah memasuki musim semi sekarang. Kelopak – kelopak bunga yang jatuh ke permukaan tanah terlihat indah. Keceriaan anak – anak di taman ini juga nampak menyenangkan. Namun ada satu hal yang lebih indah daripada semua itu.

Park Jiyeon.

Gadis yang selalu menjadi candu bagiku. Gadis yang selalu berhasil mengalihkan semua yang ada di puncak konsentrasiku menjadi hanya-terpusat-kepada-nya.

Satu hal yang sebenarnya sudah ak-

“Choi Minho!”

That’s her.

“Jiyeon-a? Apa yang kau lakukan disini? Bukankah kau bilang kau ada latihan?”

Lihatlah dia. Kapan gigi – giginya itu lelah mengunyah permen karet? Tak pernah aku melihat dia menemuiku tanpa benda manis yang selalu ia kunyah itu.

“aku…”

“bolos?”

Ia hanya membalas perkataanku dengan sederetan giginya. Manis.

“ah sudahlah, Minho. Aku sedang lelah karena tadi ada ulangan harian Kimia mendadak. Ah sial Choi Sonsaengnim. Tau saja kalau aku tak-akan-pernah-mau-sekalipun membaca setumpukan materi yang ia beri di kelas. Malah memberi ulangan mendadak”

Aku hanya tertawa kecil mendengar ceritanya. Kini aku tau mengapa sejak tadi pulang sekolah ia tampak kusut. Ia memang tak pernah menyukai pelajaran itu.

“Anyway, apa yang kau lakukan disini, Minho? Ehm, biar kutebak. Mengambil foto lagi, eoh?”

Aku hanya tersenyum mengiyakan.

“huh, apa tak bosan? Setiap senja, kau pasti datang ke taman ini dan mengabadikan beberapa momen yang sebenarnya juga membosankan. Anak berlari, para pasangan berkencan, dan.. uhh dan banyak lagi”

Tidak akan pernah. Karena taman ini adalah saksi bisu dimana kedua retinaku menemukanmu.

Aku menggeleng. Dan secara tiba – tiba ia mencubit kedua buah pipiku.

“ahh. Ada apa jiy?” aku menurunkan kedua tangannya dan mengelus pelan pipiku yang terasa panas.

“kau menggemaskan! Kau tahu? Hahaha”

Aku merasakan pipiku merona. Menyembunyikan kupu – kupu yang berterbangan ria di perutku lalu ke jantungku.

“lu-lucu apanya?”

“andai saja kau melihat ekspresimu saat kau menggeleng tadi. Ahhh… sudahlah. hehehe”

Aku tersenyum melihat tawanya.

Aku tersenyum melihat senyumnya.

Aku tersenyum melihat wajahnya.

——-

Aku mencintai fotografi. Aku mencintai kamera. Dan aku mencintai dengan apa yang telah kuabadikan dengan kamera usangku ini.

Semua momen yang kita lewati selama kita berpijak di dunia ini. Tak mungkin selamanya akan kita ingat. Memori lama yang telah usang akan terlupakan dan mulai menyimpan kenangan baru.

Untuk itulah mengapa aku sangat mencintai kamera.

Ia membantuku untuk mengingat semua hal yang pernah terjadi di dalam hidupku. Semua terabadikan oleh sebuah foto.

Termasuk, hari dimana untuk pertama kalinya kita bertemu.

~~~~

Pijakan kaki yang terbentuk sejenak menghipnotisku. Entah apa yang membuatnya spesial. Hanya saja… aku terpaku melihatnya. Aneh? Memang. Akupun sendiri terheran – heran. Saat aku mencoba mengambil gambar pijakan kaki itu, ada sesuatu berwarna merah muda pucat jatuh mengenai ujung sepatuku.

 

“eh?” aku merunduk. Mencoba mengambil sesuatu itu. Namun,

 

“Ya! Jangan disentuhh!!” aku mendongak.

 

Gadis berperawakan lumayan tinggi, dengan sneakers yang ia pakai, juga jaket dan hotpants menutupi tubuhnya. Topi yang membalut rambutnya juga tak kalah menarik perhatianku.

 

“Ah, maafkan aku. Ini.. ini bekas permen karetku. Hehehe” ia memamerkan sederet gigi putihnya padaku.

 

Terpesona.

 

“e-eh? Iya, tak apa. Biar aku bersihkan saja”  jawabku

 

“ah tidak tidak. Sepatumu menjadi kotor karenaku. Jadi biarkan aku bertangung jawab atas perilaku ku, okay?” aku hanya mengangguk.

 

Kau mulai menunduk, merendahkan tubuhmu. Dan mengambil tisu yang tersedia di tas kecilmu. Dan mulai membersihkan bekas… permen karet yang sepertinya sudah tak layak dikunyah. Dan secara tanpa sadar, aku mulai menggunakan kameraku untuk mengambil fotomu yang sedang membersihkan sepatuku. Dan kau tidak tahu. Hihihi

 

~~~

Senja mulai datang menghampiri. Aku duduk termenung di hamparan rumput hijau. Mencoba merasakan sapaan angin yang datang menghampiriku. Tiba – tiba saja terlintas bayanganmu dalam benakku.

Jantungku berdegup kencang.

Berdebar seirama dengan letupan – letupan yang kurasakana di dalam otakku.

“Mengapa tiba – tiba rasanya menjadi seperti ini?” tanyaku bodoh pada angin semilir.

Tanganku terulur menyentuh dadaku. Sekilas senyum terbesit dalam wajahku. Dan kau datang…

“Jiy? Tak biasanya kau kemari. Ada apa?”

“Mi…Minho-ya….”

Kau menangis. Matamu penuh dengan buliran mutiara yang membasahi pipimu. Secara tiba – tiba kau memelukku. A-aku… aku tak tahu apa yang harus aka lakukan.

“Apa yang terjadi, Jiy? Katakan” jujur saja kekhawatiran memang terbesit dalam hatiku. Hal apa yang bisa membuat gadis tomboy ini menangis.

“A-Aku… tak yakin apa harus bercerita padamu atau tidak” dan tangisnya makin kencang. Ia makin dalam menyembunyikan wajahnya di dalam dadaku.

“Tak apa. Ceritakan saja padaku”

“Tadi siang.. setelah bel pulang sekolah berbunyi. Aku melewati lapangan basket. Sangat ramai disana. Jadi kuputuskan untuk kesana dan melihat apa yang terjadi….”

“lalu?”

“Kau tahu kan sunbae kita, Onew oppa? Dia… dia… dia menyatakan perasaannya pada gadis lain huaaaaaa” tangismu kembali kencang. Aku terpaku

“Jadi, selama ini kau menyukainya?”

“i-iya…”

Entah apa ini namanya, namun seketika semua sendi di tubuhku terasa lemas dan tak mampu menopang beban tubuhmu yang bersandar di dadaku.

Haruskah kau mengatakannya padaku?

Haruskah kau sakit karena lelaki lain?

Bayangmu yang selama ini membutakan mataku. Kau adalah seberkas cahaya yang mengaburkan sinar lain. Pendaran cahaya yang kuat. Aku sempat terjebak dalam labirin diantara ilusimu. Namun, pada saat aku merasa bahwa kau bukanlah sebuah ilusi. Tapi kenyataan.

Saat aku merasa bahwa aku bisa meraihmu.

Saat aku ulurkan tangan ini.

Hanyalah terpaan udara hampa yang terasa. Fantasi yang terasa ini ternyata tetaplah sebuah fantasi. Tak pernah menjadi nyata.

Disaat aku mengira, bahwa kau mulai merasakan hal yang sama padaku. Namun nyatanya tidak.

Saat itu aku merasa jantung ini berhenti

~~~

Suara desir pantai memecah keheningan diantara kita berdua. Suara deburan ombak mengiringi langkah kita di pesisir pantai ini. Kecanggungan terjadi diantara kita. Semenjak, senja itu kau mengatakan bahwa kau menyukai lelaki lain. Aku merasa….. canggung padamu. Aneh memang. Bahwa pada kenyataannya, kau saja tak tahu isi hati ini.

“Minho”

Aku menoleh. Mencoba tersenyum, dan menemukan sosok wajahmu yang kini tengah memandang lekat kedua bola mataku. Kuraih kamera yang tergantung seperti biasanya di leherku. Kucetak senyumu dalam memoriku. Kameraku.

“foto lagi, huh? Haha” aku hanya tersenyum.

“Minho..” aku menoleh lagi.

Kau menghentikan langkahmu. Yang secara otomatis juga menghentikan langkahku. Kau menarik nafas panjang. Lalu menghempaskannya. Membiarkannya pergi bersama angin angin lalu. Kemudian kau menatapku. Membuat rona merah di pipiku. Aku tersipu.

Aku menggaruk tengkukku yang tak terasa gatal. Kikuk.

“bolehkah aku jujur?”

“ju..jujur tentang apa?”

“AkusukapadamudanakuberbohongtentangOnewoppa”

Kau mengatakannya begitu cepat, jiyeon-a!

“A..Apa….?”

“Jangan buat aku mengulanginya, tuan Choi” lalu kau sembunyikan wajahmu dibalik kibasan rambut yang tersapu angin.

Aku masih terpaku

“Jiy… apa kau sungguh – sungguh saat mengatakannya?”

Kau terdiam. Wajahmu masih tertutup oleh rambut – rambut nakal yang membuatku tak bisa membuat wajah merahmu.

Dengan ragu, kusentuh perlahan puncak kepalamu. Kusibakkan semua rambut yang menutupi wajah indahmu. Aku tersenyum dan kau tersipu.

Kupegang lembut kepalamu dengan kedua buah tanganku. Kutatap dalam manik matamu. Maafkan atas kenakalanku kali ini, Jiyeon-a…

Tanganku secara lembut makin turun sehingga menemukan tengkukmu. Kau mulai menatapku. Kedua bola mata kita bertemu.

“jiy, kurasa… aku juga merasakan hal yang sama padamu”

Dan kututup rona yang tercipta di pipiku dengan menghapuskan jarak diantara kita. Kelopak matamu menutup manik mata indahmu.

Kusapu perlahan bibirmu, mencoba meluapkan, mencoba menyalurkan. Perasaan yang selama ini terpendam lewat bibir manismu. Kau terpaku. Namun lama kelamaan, kau juga mulai menikmatinya.

Desir ombak dan suasana dikala matahari mulai kembai ke peraduannya menambah kesan romantis pada pengakuan cinta ini.

Aku melepaskan bibirku. Kutarik nafas panjang. Dan aku menempelkan dahiku padamu.

“Maafkan aku karna bukan aku yang pertama mengucapkannya”

Kau hanya tersenyum.

“Dan terimakasih telah membuatnya spesial, karena hari ini adalah kali pertamanya kau menemuiku tanpa benda manis yang bertengger di mulutmu” gelak tawa menggelegar diantara kita.

Dan serpaan angin ini, membawakan pesan pada dunia. Bahwa, kini sang fotografer kutu buku telah berhasil menaklukan si gadis permen karet

 

The End

Iklan

12 pemikiran pada “Sunset

  1. ㄟ(≧◇≦)ㄏ~(*+﹏+*)~╰( ̄▽ ̄)╭(≧▽≦)/~┴┴sweatttttt minji jjang,,bgug mw komen apa bis g ad konflik mrk lbi sring ngebatin

  2. Ahhh Minji so sweet..
    Lucu di kata minho terakhir, jadi terpikir kalo Jiyi menguyah permen karet di adengan kisseu mereka hhhaaa

    Next FF Minji lainnya ditunggu thor

Leave Your Comment ~~ ^^

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s