In My Dream

InMyDreamcover

In My Dream

by

momoi

.

.

 

Cho Kyuhyun and Yoo Hyemin

Hurt-Romance

Short Movie

Inspired from Super Junior’s Song

a.n Italic mark for flashback and Kyu/Hye POV. Bold mark for song lyric. Then, happy reading and say whay you feel after read this ^^

 

===

 

“Sekarang kau bisa melihatnya. Melihat laki-laki bodoh yang menangisi gadisnya. Mengais bayangannya dalam mimpi buruk yang dibencinya tiap petang.”

 

===

 

Suara berisik dari televisi yang menyala sia-sia sepertinya tak mampu menarik perhatian semua manusia dalam ruangan itu. Eunhyuk sibuk menjelajahi dunia maya dengan notebook barunya. Sungmin memetik senar gitar secara acak sambil sesekali mencoret-coret kertas melodi di meja depannya. Sementara manusia terakhir, Kyuhyun masih menatap layar handphonenya dengan pandangan kosong. Menunggu benda tipis itu berkelap-kelip jika saja ada panggilan masuk atau pun sekedar pesan singkat. Yah, menunggu memang sangat menyebalkan. Sama seperti halnya yang dirasakan Kyuhyun.

“Haaissh!”

Kyuhyun menggeram kesal, mengacak tatanan rambutnya dan membuatnya terlihat lebih berantakan daripada sebelumnya. Muka kusut, rambut berantakan, dan tanpa semburat keramahan di wajahnya yang harusnya terlihat manis. Seperti yang sering dilihat di majalah dan televisi. Tidak untuk kali ini.

“Dia masih tidak bisa dihubungi?”

Pertanyaan Sungmin sebenarnya sederhana, hanya saja tidak untuk saat ini. Laki-laki berwajah imut itu berusaha merespon ketidaknyamanan Kyuhyun. Walaupun mungkin saja Kyuhyun tidak membutuhkannya.

Kepala Eunhyuk sedikit bergeser tatkala Kyuhyun tidak juga menjawab pertanyaan Sungmin yang sepertinya memang tidak membutuhkan jawaban. Dia ingin sekali ikut terlibat dengan lelucon yang sudah menggantung di ujung lidahnya. Hanya saja, melihat air muka Kyuhyun yang sedikit kelam terpaksa membuatnya harus menelan kembali celotehannya. Sepertinya diam adalah yang terbaik untuk saat ini. Setidaknya sampai Kyuhyun sudah berteriak-teriak seperti biasanya. Dan kenyataan jika Kyuhyun diam dan menutup mulutnya ternyata lebih mengerikan daripada melihatnya berteriak-teriak dan berlaku jahil melebihi iblis.

Kyuhyun duduk di sofa beludru putih setelah sebelumnya sempat berdiri dan berjalan mengelilingi ruangan yang tidak besar itu. Tubuhnya melorot, memandang layar handphonenya yang masih gelap. Tidak menunjukkan adanya pembaharuan apapun. Dan rasa kesal yang sudah berada di ujung kepala membuatnya sangat ingin melempar benda terkutuk itu jika saja itu tidak membuatnya terlihat begitu bodoh hanya karena seorang gadis. Dan Kyuhyun tidak mau terlihat seperti itu.

Gitar dalam pangkuan Sungmin terpaksa harus dipindahkan saat bel apartement berbunyi lebih dari empat kali. Laki-laki itu dengan penuh kesadaran melewati tubuh Kyuhyun yang posisi duduknya memenuhi jalan, menuju pintu yang sebenarnya lebih dekat dalam jangkauan Kyuhyun. Sayanganya laki-laki itu lebih menikmati rasa kesalnya dengan memandang layar handphone ketimbang menarik gagang pintu dan membiarkan suara bel yang mengganggu itu berhenti.

“Yak! Kenapa kau lama sekali?”

Suara Yesung yang terdengar kesal segera memenuhi ruangan, disusul laki-laki mungil yang terlihat kepayahan membawa dua koper besar.

Eunhyuk segera beranjak dari duduknya, menghampiri Yesung dan Ryewook yang baru masuk. “Apa saja yang kalian bawa? Kalian tidak lupa pesananku kan?

“Mana mungkin kami lupa jika kau setiap satu jam sekali mengirim pesan, hyung?” Ryewook membanting tubuhnya di sebelah Kyuhyun, melepaskan rasa lelah. “Kau bahkan tidak membiarkan kami berlibur dengan tenang.” Lanjutnya dengan nada mencibir yang sangat terlihat. Dan Eunhyuk hanya menimpalinya dengan tawa tanpa sungkan seperti biasanya. Diotaknya saat ini hanyalah koleksi film terbaru yang sudah dibayangkannya beberapa hari terakhir.

Semua barang dalam koper super besar itu satu per satu dikeluarkan Yesung. Mulai dari puluhan keping dvd, kaos yang masih terbungkus rapi, topi, jam tangan sampai beberapa bungkus cokelat dan permen. Benar-benar seperti penjual yang ingin membuka lapak. Berantakan dan berisik.

“Kau sakit, Kyu?” Tanya Yesung asal. “Biasanya kau yang pertama menghadangku saat pulang dari liburan. Apa kau lupa pesananmu?” Yesung menyisihkan tiga keping kaset game yang dipesan Kyuhyun. Meletakkannya di atas meja didepan Kyuhyun.

Wajah Yesung berubah aneh. Lebih terlihat aneh daripada biasanya saat Kyuhyun hanya menatap kaset game itu datar kemudian kembali fokus pada layar handphonenya. “Bagaimana dia bisa bersemangat saat gadisnya tidak bisa dihubungi selama tiga hari.” Celoteh Eunhyuk ringan. Tetapi berakibat tidak biasa sesaat kemudian. Semua manusia di ruangan itu menatap ke arahnya bersamaan. Dan membuatnya nyaris seperti terdakwa yang salah memberikan keterangan.

“Kenapa? Apa ada yang salah dengan kata-kataku?”

Sungmin hanya menggelengkan kepalanya pasrah. Melihat kelakuan Eunhyuk yang seperti ini memang bukan hal baru. Jadi, seharusnya semua member sudah bisa membiasakan diri kan?

“Tidak bisa dihubungi?” Alis Yesung terangkat, terlihat berpikir keras dan tetap dengan wajah anehnya yang khas. “Tetapi tadi aku melihatnya di bandara sedang menjemput seseorang.” Ujarnya sedikit ragu.

Ryewook mendengus keras, menyesali keluguan Yesung yang melebihi batas. “Wae?” Protes Yesung saat Ryewook melayangkan tatapan tajam. Meskipun nyatanya tidak dapat mengalahkan evil glare Kyuhyun yang duduk di sebelahnya. Dan juga sedang menatapnya. Tetapi sialnya Yesung tetaplah Yesung. Laki-laki itu tidak tahu jika semua member sedang cemas menunggu reaksi Kyuhyun karena kelalaian kerja mulutnya.

“Tetapi aku tadi benar-benar melihat Hye Min. Dia sedang berjalan bersama seorang laki-laki tinggi.” Semua member menggelengkan kepalanya, kecuali Kyuhyun, melihat Yesung malah melanjutkan kesalahan yang tidak disadarinya. “Aku yakin itu Hye Min, karena tidak ada gadis selain dia yang keluar ke tempat seperti itu dengan hanya mengenakan sniker, celana pendek dan kaos kebesaran. Aku berani bertaruh jika itu dia!”

Semua member beringsut. Tidak berani melirik Kyuhyun. Ryewook menutup wajahnya dengan sebelah telapak tangannya. Laki-laki mungil itu ingin rasanya segera pergi dari tempat duduknya sekarang. Segera menjauh dari Kyuhyun yang sepertinya mengeluarkan aura kelam.

Hening. Semua diam sampai Kyuhyun beranjak dari sofa dan berjalan lesu menuju kamar. Tidak ada suara berdebum akibat panil pintu yang ditutup paksa. Ataupun suara barang pecah. Tetap tenang. Dan semua member bisa menarik nafas mereka kembali dengan sedikit lega. Setidaknya kali ini Kyuhyun tidak akan mengacaukan apartement.

Tiga menit kemudian sosok beraura kelam itu sudah berjalan mendekati shoes storage dengan jaket abu-abu yang menggantung asal di pundak kirinya. Eunhyuk mengedikkan dagunya, memberi isyarat pada Sungmin untuk bertanya kemana maknaenya itu akan pergi. Awalnya Sungmin menggelengkan kepalanya, tetapi setelah Ryewook juga memohon, laki-laki itu memberanikan diri untuk bertanya pada Kyuhyun yang masih mengikat tali sepatunya.

“Kau tidak lupa jika malam nanti kita ada siaran radio kan, Kyu?”

“Aku hanya mencari angin.”

Dan pintu apartement mereka tertutup sempurna sesaat sebelum Kyuhyun membuka suara.

“Yesung hyung! Apa yang kau lakukan, hah!” Ryewook merutuk kesal, menghampiri Yesung yang duduk di lantai. “Kau tidak tahu jika Kyuhyun bisa saja merubah apartement ini seperti medan perang?”

“Aku benar-benar tidak tahu apa yang sedang terjadi.” Wajah polos Yesung sepertinya membuat ubun-ubun Ryewook berasap karena saking kesalnya. “Memangnya apa yang kukatakan itu salah?”

Eunhyuk tersenyum getir seraya membereskan beberapa keping dvd yang masih berserakan di lantai. Laki-laki itu sepertinya tidak mau terlibat lebih jauh dengan pertikaian kecil ini.

“Kyuhyun baru saja bertengkar dengan Hye Min. Dan gadis itu tidak bisa dihubungi selama tiga hari ini.” Sungmin menengadahkan kepalanya, membuang karbondioksida dari paru-parunya keras. “Beberapa hari terakhir mood Kyuhyun tidak baik. Dan kata-katamu tadi membuatnya semakin kacau.” Sungmin mendelik. Menatap Yesung kesal.

Ryewook mendesis lirih. “Jika Hye Min berdekatan dengan Kyuhyun, itu bukan hal yang baik karena mereka berdua akan merusuh dan membuat hal-hal aneh. Tetapi jika mereka berdua bertengkar, itu lebih tidak baik karena Kyuhyun akan membuat apartement hancur lebur. Yah, mereka berdua benar-benar merepotkan.”

 

===

 

Kyuhyun sudah sepuluh menit berdiri didepan pintu kecil itu. Pintu berwarna putih dengan tulisan ‘GET OUT, NOW!’ yang tercetak tebal. Senyum getir mengembang di wajah kusutnya sesaat. Hanya gadis gila yang menempelkan tulisan semacam itu di pintu tempat tinggalnya. Dan sialnya gadis gila itu adalah gadisnya.

Tangannya terangkat lesu, mencoba menarik gagang pintu dan membukanya. Pintu apartemen itu tidak terkunci, seperti biasanya. Sunyi, tidak ada suara berisik dari percakapan gadis itu dengan kelinci kesayangannya -yang biasanya dikeluhkan Kyuhyun. Notebook putih milik gadis itu masih menyala, kandang kelincinya juga terbuka. Sudah ratusan kali Kyuhyun mengatakan agar mengunci pintu apartement, tetapi ratusan kali juga gadis itu membantahnya. Mengatakan jika tidak akan ada maling yang mau masuk ke dalam apartement kecil seperti miliknya.

Kyuhyun mendekati meja tempat notebook yang menyala. Isi notebook gadis itu tidak ada yang menarik perhatiannya. Sebelum dia menemukan benda memprihatinkan teronggok di sudut nakas.

Benda putih itu sudah tidak berbentuk lagi. Ya, dia sangat ingat saat melayangkan benda itu sampai menumbuk tembok yang keras.

“Kenapa kau tidak berusaha menghentikan mereka?” Kyuhyun berdiri dari kursinya, menatap Hye Min lurus-lurus. “Kau bisa saja melapor kepada polisi dan meminta pengamanan.”

Hye Min masih diam, memijat lengannya yang lebam membiru. Gadis itu tetap tak memperhatikan Kyuhyun semenjak member lainnya meninggalkan mereka dalam ruang ganti artis itu.

“Apa kau tahu jika itu sudah termasuk tindak kriminal?” Tegas Kyuhyun sekali lagi. “Mereka sudah mencoba mencelakaimu.”

Hye Min meringis, membuat sedikit noda merah di sudut bibirnya semakin gamblang. “Kau pikir aku ini siapa sampai harus meminta perlindungan kepada polisi? Mereka hanya akan menertawaiku, dan berpikir bahwa aku sudah tidak waras. Aku tidak mau terlihat bodoh seperti itu.” Gadis itu menghela nafas sesaat, sebelum melanjutkan kalimatnya. “Terlebih hanya karena seorang laki-laki.”

Darah Kyuhyun membeku. Otaknya sepertinya sedikit rusak sampai butuh waktu lebih lama untuk memproses kalimat gadis di depannya. Laki-laki itu menegang saat otaknya sudah bekerja seperti sedia kala.

“Cukup!” Protes Kyuhyun tertahan. Dia tidak ingin mendengar kalimat gadis itu selebihnya. Karena sesuatu yang akan keluar dari mulut gadis itu pasti akan membuat perutnya bergejolak nyeri. Membuat otaknya kacau. Dan Kyuhyun sangat membenci itu.

“Kenapa?” Suara Hye Min terdengar menantang. “Kenapa harus dicukupkan? Kau lupa satu hal, Kyu. Aku hanyalah gadis yang kau minta menjadi kekasihmu, tidak lebih. Kita tidak pernah membicarakan hal menggelikan yang mereka sebut cinta, bukan? Jika saja kau lupa. Kita hanyalah dua orang yang bertemu karena kesialan.”

Wajah Kyuhyun merah padam. Tubuhnya sedikit bergetar saat Hye Min tersenyum miris di hadapannya dengan luka-luka biru disekujur lengannya akibat ulah fans fanatiknya. Satu hal yang sampai sekarang sulit diterima otak Kyuhyun, bahwa nyatanya hubungannya dengan Hye Min hanya karena perjanjian semata. Perjanjian tidak masuk akal yang membuat mereka terikat. Kyuhyun saat itu hanya memikirkan bagaimana bisa keluar dari kejaran gadis-gadis sesama idola yang mebuatnya risih. Sementara Hye Min juga berada pada posisi yang sama.

Meskipun sekarang Kyuhyun lupa tentang perjanjian tidak tertulis itu. Satu hal yang berusaha diingatnya hanyalah bahwa Hye Min adalah gadisnya. Tidak peduli alasan apapun yang membuat mereka bersama.

“Kau tidak perlu khawatir seperti itu. Aku bisa mengurusi diriku sendiri.”

Kyuhyun mengepalkan kedua tangannya, menahan sesuatu yang terasa panas seperti membakar setiap inci nadinya.

“Berhentilah bersikap seolah-olah kita ini sepasang kekasih yang saling mencintai.” Hye Min tertawa lirih. Ada nada meremehkan dalam suaranya. “Kau akan terluka jika itu benar-benar terjadi.”

“KUBILANG CUKUP!” Kyuhyun merebut paksa handphone putih yang sedang dimainkan gadis itu. Melayangkannya begitu saja sampai membentur tembok di seberang ruangan. Hancur.

 

Drrrtt. . . Drrt. . . .

Getaran benda dalam saku celana Kyuhyun membuat laki-laki itu terkesiap kaget. Berhasil membawanya kembali dalam alam sadarnya, dalam apartement kecil milik Hye Min.

“Kyuhyun-ah! Kau sekarang dimana? Apa kau baik-baik saja? Semua member sudah bersiap. Kau tidak lupa jika malam ini kita ada siaran di Sukira bukan?”

Suara di seberang segera menyerbu Kyuhyun dengan pertanyaan-pertanyaan yang tidak penting, bahkan tidak memberikan kesempatan untuk sekedar mengucapkan kata halo.

“Aku langsung menuju studio.”

Kyuhyun dengan segera memutuskan sambungan telepon. Meminimalisir pertanyaan menginterogasi Leeteuk yang sangat dibencinya. Dan memang sekarang dia sedang tidak ingin mendengarkan apapun selain suara memekakkan gadis itu, Hye Min.

 

===

 

“Bagaimana kau bisa tahu jika hari ini aku akan datang?”

Laki-laki tinggi dengan setelan biru muda itu memandang Hye Min antusias. Menunggu jawaban tidak terduga yang akan dikeluarkan gadis yang sibuk mengemudi itu.

“Mudah.” Ujarnya singkat. Gadis itu menoleh, menunjuk kaca spion. “Memangnya kau pikir mereka itu tidak berguna?”

Takeru, laki-laki yang duduk di samping Hye Min itu dengan patuh mengikuti arah telunjuk yang mengarah tepat pada mobil sedan hitam yang mengekor di belakang mereka. Mobil yang dikemudikan dua orang berbadan tegap dengan jas hitam, nyaris sama seperti bodyguard dalam film-film action. Dan sesaat kemudian kekehan ringan membuatnya tersadar bahwa Hye Min masih saja seperti dulu. Gadis aneh dengan dimensi berbeda daripada gadis kebanyakan.

“Jadi, apa yang membuatmu datang ke kota paling tidak menyenangkan ini?”

Takeru tersenyum, menatap lebih lama wajah gadis di sampingnya yang tampak bersinar karena sinar matahari yang menembus kaca mobil. Laki-laki itu tidak menyangka jika gadis kecil yang dulu sering tidur di rumahnya, sekarang tumbuh menjadi gadis yang memukau, meskipun ada satu yang tidak berubah. Keanehan dalam dirinya. Cara berpikirnya yang selalu sederhana dan tak terduga.

Hey! Apakah wajahku begitu mempesona sampai membuatmu seperti itu?” Hye Min melambai-lambaikan tangannya, mencoba menyadarkan Takeru dari lamunannya.

Laki-laki itu hanya terkekeh. “Aku ingin mencicipi jajangmyeon yang selalu kau ceritakan itu.” Takeru melipat kedua tangannya didepan dada. “Seperti apa rasanya makanan kesukaan kalian itu. Kau dan juga kekasihmu itu.” Lanjutnya sarkastis, dan penuh penekanan pada kalimat terakhirnya.

Hye Min melengos, senyum yang sebelumnya menghiasi wajahnya lenyap seketika. “Kau ingin menginap di hotel atau di rumah?”

“Ada apa denganmu?” Wajah Takeru terlihat sedikit bingung. “Biasanya kau akan menceritakan hal-hal tidak penting yang kau lakukan dengan kekasihmu itu sampai membuat telingaku panas.”

“Kau ingin menginap di hotel atau di rumah?” Hye Min mengulangi pertanyaannya dengan nada datar, tanpa berniat meninggalkan fokusnya dari jalanan.

Setelah merasa kalah, Takeru mencoba mengikuti kemauan Hye Min untuk tidak membahas topik itu sekarang. “Bisakah aku menginap di tempatmu?” Katanya ragu-ragu. “Oneesan bilang kau punya tempat tinggal sendiri. Aku ingin melihatnya.”

 

===

 

“Kau yakin ini tempatnya?”

Takeru mencoba mengikuti langkah ringan Hye Min, menyusuri gang sempit dan belokan-belokan tajam sepanjang jalan berbatu semenjak mereka turun dari mobil tadi.

“Kau tidak salah jalan, Minnie-chan?

Hye Min menghentikan langkahnya tiba-tiba, membalikkan tubuhnya sehingga menghadap Takeru. Membuat laki-laki tinggi yang mengekor di belakangnya sukses menubruk tubuhnya karena terlalu sibuk memperhatikan rumah-rumah kecil yang berdesakan sepenjang jalananan kecil itu. “Berhenti mengomel atau aku tidak akan mengajakmu kesana!” Rutuk Hye Min kesal. “Dan satu lagi. Berhenti memanggilku chan, aku bukan anak kecil lagi, Eru-ya!”

“Hai, hai!” Takeru mengangguk patuh. “Sebaiknya cepat tunjukkan tempatnya karena aku sudah sangat lapar. Aku benar-benar tidak makan apapun sejak pagi tadi, benar-benar tidak ada makanan di tempatmu.” Keluh laki-laki itu mengingat hanya ada orange juice dan cokelat yang memenuhi lemari pendingin gadis itu. Tidak ada sereal. Tidak ada susu. Setidaknya sesuatu yang BISA dimakan manusia normal.

“Kita sudah sampai!”

Hye Min memekik girang saat tiba didepan rumah dengan puluhan gentong di halaman samping kirinya. Sementara tidak jauh dari gentong-gentong itu ada dua bangku tua dari kayu, tepat dibawah pohon sakura -satu-satunya pohon yang ada di tempat itu.

Takeru membiarkan matanya menyapu setiap detail tempat itu, menganalisis tempat yang menurut Hye Min pantas membuatnya terbang jauh-jauh dari Jepang. Dan sepertinya dia harus setuju untuk kali ini.

“Bagaimana?”

“Tidak buruk.” Takeru tersenyum simpul. Terlihat lebih manis saat terakhir kali Hye Min melihatnya sepuluh tahun yang lalu. Atau mungkin gadis itu baru menyadarinya sekarang, bahwa Takeru memang laki-laki rupawan yang banyak diceritakan teman-teman sekolahnya dulu.

“Apa kita hanya berdiri disini saja?”

“Ne?”

Takeru tersenyum, lagi. Dengan sabar mengulang pertanyaannya. “Apa kita akan berdiri saja? Tidak mencari tempat duduk?”

Dengan sedikit kikuk, Hye Min membimbing Takeru untuk mengikutinya menuju bangku dari batu di sebelah bangunan utama. Kemudian meninggalkan laki-laki itu, memasuki kedai kecil di samping rumah untuk memesan makanan.

“Jadi ini tempat yang biasa kalian jadikan tempat kencan?” Takeru menyambut Hye Min yang baru menjatuhkan tubuhnya di seberang meja. “Tidak buruk, mengingat akan sulit berkencan dengan seorang idola.” Lanjutnya seraya memandang sekeliling rumah itu. Ada hutan pinus tidak jauh di belakangnya. Juga suara riak sungai yang terdengar sayup-sayup.

Hye Min memandang jauh menembus hutan pinus di belakang pundak Takeru. Menatap satu titik yang jauh disana.

“Kau sekarang terlihat seperti gadis normal.”

Takeru tersenyum, kemudian menyangga dagunya dengan sebelah lengannya dan menatap Hye Min lurus. “Aku pikir kau tidak akan pernah seperti gadis-gadis yang lainnya.”

“Maksudmu aku bukan gadis normal?” Tanya Hye Min menuntut. Gadis itu terpaksa menghentikan omelannya saat seorang wanita dengan nampan penuh makanan mendekati meja mereka. Wajah wanita itu terlihat sedikit bingung saat mendapati Takeru duduk satu meja dengan Hye Min. Tetapi wanita itu bisa menguasai ekspresinya dengan segera.

“Jangan bersikap seperti itu, saya tentu tidak ada bedanya dengan tamu-tamu anda yang lainnya.”

Takeru mencoba bersikap ramah pada wanita yang menurunkan banyak mangkuk kecil berisi makanan dan menatanya di meja dengan aksen Jepang yang kental. Tetapi wanita yang terlihat sudah berumur itu malah beringsut dan tersenyum kikuk. Bagaimana dia bisa bersikap biasa saat orang dengan setelan mencolok dan sepatu mengkilap seperti itu mendatangi kedainya yang terbilang sangat biasa.

“Dia benar, Yoonji-nim. Jangan sungkan hanya karena jasnya yang licin dan sepatunya yang menyilaukan itu.” Hye Min menambahkan, membuat wanita yang dipanggil Yoonji itu sedikit rileks. “Dia memang tidak punya pakaian lain selain setelan itu, jadi maklumi saja.”

Takeru mendesis, sementara Yoonji sudah bisa tersenyum. “Pantas saja tidak ada suara berisik seperti biasanya. Saya kira nona datang sendiri.”

“Memangnya bagaimana biasanya jika dia datang kesini dengan temannya, bibi?” Takeru tertarik dengan penjelasan Yoonji. Tetapi tatapan Hye Min yang mengerikan urung membuatnya melanjutkan rasa penasarannya. Dan menyantap kimchi serta jajangmyeon sepertinya adalah pilihan yang bijak, sebelum wajah menyeramkan gadis di depannya itu mengubah rasa makanan dalam mulutnya.

 

===

 

“Kau saja! Cepat!”

Donghae dan Eunhyuk mendorong tubuh Ryewook mendekati pintu kamar Kyuhyun. Memaksa laki-laki mungil itu untuk mengetuk pintu dan menyuruh keluar maknaenya sekedar untuk makan malam, karena dia tidak terlihat keluar dari kamarnya semenjak kemarin siang.

“Aku tidak berani, hyung.

“Tetapi kau sudah kalah, jadi cepat lakukan.” Desis Donghae, mengingatkan Ryewook tentang kekalahannya melawan dirinya dan juga Eunhyuk dalam permaianan gunting batu kertas beberapa saat tadi.  “Cepat lakukan atau akan kulempar kau kedalam.” Ancamnya karena Ryewook hanya mematung di ambang pintu.

“Hana, dul, set!” Eunhyuk memberi isyarat dari balik tembok. Tempatnya memantau Ryewook dengan aman karena tidak terlihat dari posisi Ryewook berdiri sekarang. Tak lama kemudian, Donghae sudah berdiri di belakang Eunhyuk.

Dengan sangat menyesal karena menuruti kedua hyungnya, Ryewook mengetukkan jarinya pada pintu kamar Kyuhyun. Dia terpaksa mengulang lima kali sampai seseorang di dalam membuka pintu.

Tubuh Ryewook sudah gemetaran saat Kyuhyun muncul dari balik pintu dengan wajah kusut dan kelam. Dia paksa mulutnya untuk terbuka. “Semuanya sudah menunggumu di meja makan.”

“Aku tidak lapar, jangan menungguku.” Suara Kyuhyun sedikit serak. Ataukah hanya telinga Ryewook yang sedikit bermasalah.

“Tapi kau belum makan apapun sejak kemarin. Kami tidak mau terjadi apa-apa denganmu, karena besok kita ada konser.”

“Aku bisa mengurus diriku sendiri, jangan khawatir.” Pintu itu tertutup sempurna didepan wajah Ryewook. Tepat saat laki-laki itu ingin mengeluarkan rayuannya lagi untuk membujuk maknae mereka yang keras kepala.

Ryewook mendesisi kesal sambil berjalan mendekati Donghae dan Eunhyuk yang terkikik senang melihatnya menyedihkan di depan Kyuhyun.

“Benar-benar menyebalkan. Bagaimana dia bisa mengorbankan kesehatannya sendiri hanya untuk seorang gadis?” Rutuk Ryewook sepanjang jalan menuju meja makan, dengan Donghae dan Eunhyuk masih menertawai kesialannya. “Hye Min bahkan tidak pernah bersikap manis padanya.”

“Itu karena kau tidak pernah memiliki kekasih Wookie-ya.

“Tepat. Jadi kau tidak tahu bagaimana rasanya patah hati.” Eunhyuk mengangguk setuju. Membenarkan pernyataan Donghae yang membuat Ryewook mencebik. “Tetapi, apa benar saat itu kau melihat Hye Min bersama seorang laki-laki?” Eunhyuk menjajarkan langkahnya dengan Ryewook, merangkul pundak laki-laki mungil itu agar mau memberitahunya sesuatu yang sudah sepekat untuk tidak dibahas lagi beberapa hari yang lalu.

Ryewook terlihat berpikir. Menimbang-nimbang untuk memberitahu kedua hyungnya yang mengganggu itu atau tetap tutup mulut sesuai perjanjiannya dengan Yesung. “Ayolah, apa kau tidak menganggap kami seperti keluarga? Bagaimana kau bisa menyembunyikan sesuatu dari kami seperti itu?” Donghae mencoba membujuk Ryewook.

Melihat tampang menyebalkan kedua hyungnya, membuat Ryewook dengan terpaksa mengambil notebook milik Yesung di dalam kamar. “Aku hanya menunjukkan kepada kalian, jadi jangan ceritakan kepada yang lainnya, ahrasteo?

Donghae dan Eunhyuk mengangguk patuh. Memperhatikan Ryewook yang mulai membuka notebook. Tak lama, beberapa foto memenuhi layar notebook itu dan berhasil membuat mereka berdua menganga.

“Siapa dia?”

“Laki-laki yang bersama Hye Min saat di bandara tempo hari.” Ryewook menjawab pertanyaan Eunhyuk tanpa meninggalkan fokusnya pada layar notebook yang masih menunjukkan lebih banyak gambar laki-laki yang sedang mereka bicarakan.

“Maksudku kau tahu tentang laki-laki ini? Namanya mungkin. Atau asalnya.” Timpal Eunhyuk sedikit gemas dengan jawaban Ryewook yang tidak memuaskan. Sementara Donghae sibuk memperhatikan foto-foto di layar itu, tidak ingin ambil pusing mengenai apa yang sedang diributkan dua orang disebelahnya.

Ryewook menegakkan tubuhnya, mengatur posisi duduknya sebelum memulai ceritanya. “Setelah aku dan Yesung hyung mencari informasi mengenai laki-laki itu, kami sedikit tidak percaya. Tetapi laki-laki ini adalah Yoshimoto Takeru. Putra tunggal Yoshimoto Anoda, pemegang saham terbesar Growrich Group.”

Donghae dan Eunhyuk saling bertukar pandangan bingung. Mereka mencoba mencerna penjelasan Ryewook, tetapi sia-sia. Mereka sama sekali tidak tahu apapun mengenai dunia bisnis.

“Kalian benar-benar payah.” Nada suara Ryewook terdengar meremehkan, meskipun dia juga baru tahu setelah Yesung menjelaskan semuanya beberapa hari yang lalu. “Growrich Group adalah perusahaan raksasa milik dua pengusaha ternama, dari Jepang dan Korea. Mereka sudah menguasai pasar fashion Asia, dan sekarang sudah mulai bergerak dalam bidang entertainment. Aku dengar mereka turut andil dalam debut resmi kita di Jepang nanti.”

“Lalu apa hubungan laki-laki itu dengan Hye Min?”

Ryewook mengangkat bahunya singkat. “Mungkin laki-laki itu pacar gelap Hye Min.” Donghae langsung mendapat tatapan tajam dari dua orang di sampingnya, sesaat setelah menyelesaikan kalimatnya.

“Kau terlalu banyak menonton drama, Hae. Jangan membuat cerita sendiri di dunia yang sudah rumit ini.” Eunhyuk menggelengkan kepalanya prihatin. Pasangan kembar siamnya mungkin sudah terkena drama effect, hingga dia bisa memikirkan sesuatu yang mustahil seperti itu.

 

===

 

Kyuhyun menyesap latte dalam cangkir ketiganya. Memenuhi perutnya yang kosong dengan puluhan milligram cafein. Tidak ada yang bisa dilakukannya sekarang. Semua tidak seperti yang dibayangkannya dulu. Tidak seperti rencana dalam perjanjiannya yang tak tertulis dengan gadis aneh yang ditemuinya beberapa bulan lalu. Terlambat, rasa aneh yang selalu ditakutkannya benar-benar dia rasakan saat ini. Rasa seperti ribuan bulu menggelitik perutnya. Rasa geli yang membuat tulang punggungnya berdesir hebat. Rasa begitu menyesakkan saat dia begitu ingin melihat wajah gadis aneh itu.

Semuanya berjalan normal sebelum gadis itu merubah sedikit demi sedikit tatanan hidup Kyuhyun. PSP, game, notebook, makanan, menyanyi dan dirinya sendiri. Hal-hal yang menyenangkan itu tetap pada tempatnya dan membuat Kyuhyun merasa memiliki segalanya, tidak membutuhkan apapun lagi.

Sampai pada akhirnya gadis itu membuat Kyuhyun membanting lampu meja kesayangan Ryewook saat dengan sengaja menurunkan level gamenya ketika menggunakan PSP kesayangannya, karena nyatanya gadis itu memang tak bisa bermain game. Ketika merubah password notebooknya hingga membuatnya tidak tidur semalaman. Mengurangi jatah makanannnya di apartement. Atau menghabiskan isi dompetnya dengan porsi makannya yang melebihi gadis normal pada umumnya. Tidak jarang gadis itu secara terang-terangan menyuruh Kyuhyun berhenti menyanyi karena suaranya yang menurut gadis itu sangat mengganggu. Permintaan aneh yang membuat Kyuhyun merasa dibodohi karena membuat member lainnya tertawa senang. Anehnya, Kyuhyun tidak pernah menolak permintaan gadis itu. Menerima semua hal-hal aneh yang tidak pernah dipikirkan oleh akal sehatnya sebelumnya. Dan gadis itu telah melakukannya. Mengendalikan hidup Kyuhyun secara perlahan.

Kyuhyun tidak pernah menyadari jika ternyata dirinya sudah bergantung banyak pada gadis itu. Gadis yang menerima perjanjian tak tertulis dengannya. Perjanjian konyol yang mengharuskan gadis aneh itu menjadi kekasihnya sampai dia memutuskan akan mengakhirinya. Gadis itu menerima tanpa persyaratan apapun. Membuat Kyuhyun dalam hati berteriak menang, setidaknya gadis itu cantik dan Kyuhyun tidak menyangkalnya. Jadi, member lain tidak mungkin akan menghinanya. Itu adalah hal pertama yang terlintas dalam otaknya. Dulu.

Sekarang, sedikit meleset dari perkiraannya. Bukan meleset, mungkin benar-benar tidak pada alurnya lagi. Gadis itu merubah semua tatanan hidupnya.

Gadis itu bisa mengalahkan PSP yang menjadi nomor satu dalam hidupnya. Dia bisa membuat Kyuhyun merasa was-was. Merasa kesal sampai marah. Merasa gelisah saat keberadaan gadis itu menghilang tiba-tiba. Bahkan berhasil membuatnya tersenyum-senyum sendiri seperti orang tidak waras. Gadis itu melakukan segalanya.

Kyuhyun menarik pandangannya dari jalanan sepi di luar café untuk menilik asap yang sudah menghilang dari cangkir lattenya. Membuatnya sesaat berpikir, sudah berapa lama dia melamun. Apakah sekarang dia benar-benar seperti orang yang sedang patah hati? Menggelikan.

Suara gesekan pintu kaca café itu menarik perhatian Kyuhyun. Membuatnya menarik sudut mata untuk mengetahui siapa orang yang masih keluyuran di pagi buta seperti ini. Laki-laki itu memeriksa jam tangannya sekali lagi, dan angka yang ditunjuk dua jarum di pergelangan tangannya menunjuk angka lima dan tujuh. Setengah lima pagi. Siapa orang yang terseok-seok masuk café di pagi buta seperti ini?

Kerja paru-paru Kyuhyun terhenti. Gadis dengan jaket tebal itu memapah seorang laki-laki tinggi yang terlihat sedang mabuk berat. Mencari meja paling dekat dengan pintu masuk. Gadis itu terlihat memanggil pelayan dan memesan sesuatu.

Inign rasanya Kyuhyun segera menghambur ke arah gadis itu. Memeluknya karena begitu merindui keberadaannya sampai terasa menyesakkan seperti ini. Mendekap gadis itu agar tidak bisa lari kemana pun kecuali berada di sampingnya. Dan membutakan matanya tentang keberadaan laki-laki yang sekarang berada di samping gadisnya. Laki-laki yang menghabiskan malam bersama gadisnya. Walaupun Kyuhyun yakin bahwa gadisnya tidaklah sama dengan gadis lainnya.

Tetapi seperti apapun dia berusaha menata hatinya, membujuk dirinya sendiri untuk percaya, kenyataan di depannya terlalu memberatkan untuk diterima. Kenyataan bahwa gadisnya menghilang dan sekarang bersama seorang laki-laki lain, di pagi buta.

Langkah kaki Kyuhyun terasa berat menuju meja gadis itu. Dengan amarah disisa-sisa kekuatannya, Kyuhyun semakin mendekati meja itu. Rasa nyeri yang bergolak dalam perutnya berusaha dienyahkannya, walaupun nyatanya rasa itu semakin terasa jelas dan menyakitkan.

Gadis itu terperanjat kaget saat Kyuhyun dengan tiba-tiba menarik pergelangan tangannya. Membuat tubuh kurusnya terangat dari kursi. Mata almond gadis itu melebar, sehingga Kyuhyun bisa melihat dengan jelas manik cokelat terang yang dirinduinya beberapa hari terakhir. Lekukan hidung yang langsing. Bibir tipisnya yang sempurna semerah darah. Juga pipinya yang bersemu merah muda seperti biasanya. Wajah yang sudah akrab dengan ingatannya.

“Apa ini yang kau lakukan setelah menghindar dariku?”

Gadis itu diam, membuang pandangannya dari tatapan Kyuhyun yang menusuk.

“Aku belum memutuskan perjanjian kita, jadi kau tidak bisa pergi dariku!” Pekiknya tertahan saat gadis di depannya masih mempertahankan diri dengan mengunci rapat bibirnya. “Aku tidak peduli tentang apa yang kau lakukan saat di belakangku. Tetapi kumohon, tetaplah bersamaku. Tetaplah berada dalam jangkauanku.”

Gadis itu mengangkat wajahnya, memperlihatkan raut datar dan sulit terdefinisi. “Omong kosong apa yang kau katakan? Kita tidak terikat seperti pasangan lainnya. Kita hanya melakukannya karena sebuah perjanjian konyol.”

“Aku tidak peduli lagi tentang perjanjian itu. Dan berhentilah membuat dirimu buruk dimata member lainnya.” Kyuhyun berusaha mengatur nafasnya yang semakin sesak. “Berhentilah menyakiti dirimu sendiri.”

Gadis itu mengangkat satu ujung bibirnya. “Aku tidak peduli bagaimana pandangan mereka terhadapku. Dan tahu apa kau tentang aku!” Gadis itu menghentakkan pergelangan tangannya, mencoba melepaskan genggaman tangan Kyuhyun yang semakin terasa menyakitkan. “Aku hanyalah gadis bodoh yang pernah bersamamu, dan itu tidak berarti aku mengharapkannya. Aku tidak pernah menginginkan keberadaanmu dalam hidupku. Aku rasa kau harus tahu itu.”

Kyuhyun masih mematung di tempatnya, setelah gadis itu berhasil melepaskan pergelangan tangannya dari genggamannya. Mengais sisa-sisa oksigen dalam paru-parunya yang terasa kosong. Lututnya lemas, tenaganya seperti lenyap tak tersisa bahkan untuk berdiri sekalipun.

Dengan sisa-sisa amarah dia melangkah keluar, meninggalkan gadis yang sekali lagi mengubah hidupnya. Membuatnya semakin kacau.

Tubuh gadis itu masih bergetar dalam kursinya. Meredam sesuatu yang hebat dalam dirinya. Kedua tangannya mencengakeram pinggiran meja, mencoba mencari pegangan yang cukup kuat untuk menopang tubuhnya yang terasa lemas.

Takeru menggeliat dalam keadaan kepala tergeletak di atas meja. Laki-laki itu perlahan-lahan mengangkat kepalanya yang terasa sangat pening. “Apa yang baru saja terjadi? Aku seperti mendengar kau berbicara dengan orang.”

“Kau hanya berhalusinasi. Sudah kubilang, shoju itu tidak sama dengan whine. Dan sekarang kau lihat! Kita terpaksa masuk café terkutuk di pagi buta seperti ini.” Gadis itu merutuk semakin lirih. Seperti tenggorokannya sakit untuk sekedar berbicara.

“Apa kau menangis?” Takeru mengangkat telunjuknya. Mengarahkannya pada mata gadis itu yang tampak basah pada kedua sudutnya.

Gadis itu menggelengkan kepalanya lemah. “Kau berhalusinasi lagi, Eru-ya!” Takeru menjawab dengan anggukan pasrah orang mabuk. Tetapi laki-laki itu yakin jika matanya masih bisa melihat dengan jelas. Melihat bahwa gadis kecil aneh yang selalu bersamanya dulu, kini menangis seperti gadis normal lainnya.

 

===

`13 November 2010, Nanjing Super Show III`

 

“Kau yakin dia bisa melakukannya?”

Ryewook berbicara lirih didepan telinga Yesung. Meminimalisir orang lain mendengar kata-katanya. Yesung yang diajak bicara hanya melihat sosok Kyuhyun di barisan paling depan. Mereka menunggu lampu dimatikan sebelum masuk ke atas panggung. Laki-laki itu mengangkat bahu pelan, dan menggeleng lemah setelahnya.

Membayangkan bagaimana keadaan maknaenya itu sudah membuatnya merinding. Laki-laki yang biasa bersikap jahil itu sudah lebih dari seminggu seperti mayat hidup saja. Tidak berbicara, tidak mau menyentuh makanan selain latte dan beberapa multivitamin. Menumpuk cafein dalam tubuhnya yang semakin melemah.

Lagu panggung menggelap. Dan Kyuhyun melangkah dengan kaki gemetar.

 

If i hold you in my arm you disappear

The tears flow and the pillow becomes wet

Finally i wake up from my sleep

Morning is always like this, my love

 

Aku meliriknya, menjangkau keberadaan gadis itu lewat sudut mataku. “Apa yang kau pikirkan tadi?”

Gadis dengan rambut berantakan itu menoleh, mencopot lollipop dari bibirnya yang tipis. “Memikirkan apa?” Wajah gadis itu datar, seperti biasanya.

Aku ingin sekali menjelaskan tentang apa yang kulihat selama konser tadi. Hanya saja jika aku menceritakan itu kepada gadis di sampingku ini, berarti aku telah membuka aibku sendiri. Memperhatikan gadis itu kelewat batas wajar. Dan aku tidak mau menjadi bahan tertawaan nantinya.

“Saat lagu terakhir. Apa yang kau pikirkan sampai wajahmu terlihat aneh seperti tadi?” Aku mencoba mengingat bagaimana wajah Hye Min yang terlihat tidak seperti biasanya. Biasanya gadis itu selalu tertidur saat datang ke konser kami. Atau menutup telinganya dengan headphone super besar. Tetapi tadi dia tidak melakukannya. Gadis itu seperti mencerna setiap bait lagu yang kami alunkan. Dan aku sangat penasaran.

“Ckck, aku baru tahu jika matamu bisa setajam itu.” Hye Min terlihat sedikit tidak percaya jika aku bisa bisa melihatnya dari jarak sejauh itu. “Aku hanya merasa lagu itu sedikit tidak masuk akal.” Lanjut gadis itu setelah agak lama terdiam.

“Tidak masuk akal? Kenapa?”

Hye Min terkekeh ringan. “Apa kau pikir akan ada laki-laki yang menangisi gadisnya seperti itu? Jika ada, aku ingin sekali melihatnya.”

 

I hope i will fall asleep forever like this

I wake up with her presence still

Although i hope i don’t dream ever again

Today too, it seems i fall asleep with her presence

 

Sekarang kau bisa melihatnya. Melihat laki-laki bodoh yang menangisi gadisnya. Mengais bayangannya dalam mimpi buruk yang dibencinya tiap petang.

 

She’s smilling

It has really been too long

I have missed that expression

She’s my girl, ist’t she?

 

Rasanya melegakan, bisa melihat senyummu lagi. Senyum yang membuatku lupa cara menghirup oksigen dengan benar. Senyum itu terlihat tidak berbeda. Walaupun kini bukan aku yang berada didekatmu. Aku sangat merindukan senyum itu. Senyum membutakan gadisku.

 

She is walking away

Embracing another person

My heart feels as if it is being crushed under a heavy weight

 

Aku tidak peduli terlihat betapa menyedihkannya diriku.  Selama kau berada dalam jangkauanku, aku akan baik-baik saja. Aku juga tidak peduli apa yang kau lakukan dibelakangku. Selama kau bersamaku, aku bisa hidup dengan benar.

 

I am dreaming again, right?

Cold sweat is running down my face

It hurts

It’s a dream of things i hate to even remember

I can’t do anything all day long

We will spend time together right?

 

Aku selalu berharap jika aku membuka mata, kau sudah ada di depanku dengan wajah kesal dan bibir mengerucut. Atau meneriakiku dengan suaramu yang memekakkan. Dan satu hal yang paling aku benci. Kau telah menghilang. Lenyap. Seperti senja yang menelan sang surya. Kau tidak lagi dalam jangkauanku.

 

Everything is becoming blurry

But her images is becoming clearer

 

Aku mencoba menguburmu dalam amarah yang menggunung. Menenggelamkanmu dalam kedengkianku yang tak bertepi. Tetapi semakin aku mencobanya. Setiap detail wajahmu semakin nyata. Semakin jelas meyiksa hari-hariku.

 

If only i could see you again today

If i could do it again

If you came back again

 

Aku tidak tahu jika kau mengendalikan hidupku begitu jauh. Mengubah tatanan hidupku yang sebelumnya normal. Dan sekarang, bagaimana kau bisa menghilang setelah menjadi pusat orbitku. Mengubah alur hidupku untuk berotasi terhadap keberadaanmu.

 

If you slept besida me just once more

If it happened again

I wouldn’t want to wake up

If i could fall asleep

 

Selalu seperti ini. Terjerat mimpi buruk dengan ilusi wajahmu yang kian nyata. Menyesakkan. Mengerikan. Aku ingin lepas. Meskipun nyatanya aku tidak bisa melakukannya.

 

===

 

Beberapa orang yang berkumpul didepan pintu ruang ganti itu terlonjak kaget saat dengan tiba-tiba Jung Hoon membuka pintu. Membuat aksi Eunhyuk dan lainnya yang sedang menguping tertangkap basah. Semua member tersenyum hambar menatap menagernya itu mendelik ke arah mereka. Dan satu-satunya cara agar bisa lolos hanyalah bersikap bodoh dan tak tahu apa-apa.

“Dia itu siapa, hyung?” Leeteuk mencoba melancarkan aksinya. Mengorek informasi tentang laki-laki dengan setelan parlente yang baru saja masuk ruang ganti. Jung Hoon mencoba meninggalkan kerumunan berisik itu. Melongokkan kepalanya ke setiap sudut ruangan, seperti mencari benda kecil yang sulit terlihat.

“Dia di kamar mandi.” Sungmin berhasil menghentikan gerakan tergesa menagernya. Membuat pria berkacamata itu berjalan menghampirinya.

“Kau yakin?”

“Aku melihat dia merendam kepalanya dalam wastafel. Coba saja cek sekarang.” Sungmin menunjuk pintu berwarna kuning di pojok lorong. Dan Jung Hoon dengan segera melangkahkan kakinya menuju tempat yang ditunjuk Sungmin.

Ryewook menarik-narik ujung kaos Yesung. Mencari perhatian laki-laki sipit itu. “Laki-laki yang didalam ruangan itu ternyata Yoshimoto Takeru.” Bisik Ryewook hati-hati.

Yesung memekik berlebihan, sukses membuat member lainnya memperhatikan gerak-gerik mencurigakan yang dilakukannya dan juga Ryewook. “Ada apa?” Donghae menghampiri kedua orang yang tengah tersenyum hambar itu. “Ada apa?” Tanyanya lagi.

“Tidak ada apa-apa.” Jawab Yesung cepat, disusul anggukan kepala Ryewook yang terlalu bersemangat. Semakin membuat member lainnya penasaran dengan kelakuan dua orang disudut pintu itu.

“Kau tidak bisa membodohi kami dengan tampang seperti itu.” Heechul mendekat ke arah mereka. Mengeluarkan senyum mengerikan yang membuat siapapun merinding. “Apa yang kalian sembunyikan?”

Ryewook gemetaran. Dengan sangat tidak rela dia memberitahukan siapa laki-laki yang tengah berada dalam ruang ganti itu.

“Kau yakin dia Yoshimoto Takeru?” Suara Siwon sedikit tidak percaya. “Kenapa dia bisa berada di sini? Di China?”

Donghae tidak menjawab pertanyaan Siwon. Laki-laki itu malah mengedikkan dagunya ke arah Jung Hoon yang berjalan mendekati kerumunan mereka. Dibelakangnya Kyuhyun terlihat kacau dengan rambut basah dan mata merah bengkak. Tidak perlu jenius untuk tahu apa yang dilakukan laki-laki itu dikamar mandi. Menangis, memangnya apa lagi. Dia bahkan sudah tidak bisa menahan air matanya saat di atas panggung tadi. Yang perlu dipertanyakan adalah, kenapa Kyuhyun dan Jung Hoon bisa berjalan beriringan mendekati mereka. Mendekati ruang ganti.

Dan satu hal lagi yang membuat mereka tekejut. Kyuhyun mengikuti managernya memasuki ruang ganti. Meskipun ada empat manusia yang tidak begitu terkejut, tetapi tetap saja mereka tidak tahu apa yang membuat maknaenya itu berurusan dengan Yoshimoto Takeru.

 

===

 

Kyuhyun menghentikan langkahnya saat pintu dibelakangnya baru saja tertutup. Melihat wajah laki-laki didepannya sepertinya membuat kepalanya yang sedikit dingin karena terendam air di wastafel kembali panas. Kenapa laki-laki itu bisa berada di tempat ini. Di China.

“Aku akan meninggalkan kalian berdua.” Jung Hoon beranjak, meninggalkan kedua orang itu dalam ruang sempit dan tiba-tiba terasa sangat panas.

“Jadi kau yang bernama Kyuhyun?” Takeru berdiri dari duduknya, menyeberangi ruangan dan berjalan mendekati Kyuhyun. Mengulurkan tangannya ke arah lawan bicaranya.

“Apa yang kau lakukan disini?” Kyuhyun masih mempertahankan posisinya, membiarkan uluran tangan Takeru menggantung di udara.

Takeru tersenyum. Memaklumi perlakuan Kyuhyun padanya. “Aku hanya ingin memberikan ini.” Laki-laki itu menyerahkan amplop besar berwarna merah. “Ini undangan pernikahanku dan, Hye Min.”

Darah dalam nadi Kyuhyun terasa terbakar. Kepalanya yang masih basah sepertinya sekarang akan beruap saking panasnya. Rasa nyeri pada perutnya kembali mengiris-iris tanpa ampun. Menyesakkan dan menyakitkan. Ini mimpi, kan? Undangan pernikahan?

“Kau mungkin tidak akan percaya, tetapi aku akan menikahi Hye Min. Yoo Hye Min. Gadismu.”

Bbruukkh

“Kyuhyun memukulnya!” Eunhyuk memekik kaget saat Kyuhyun terlihat melayangkan kepalan tangannya dari lubang kunci pintu ruang ganti itu. Sementara member lain yang mengekor dibelakangnya memasang tampang gelisah. Tak terkecuali manager mereka. Jung Hoon hanya tidak menbayangkan akan berurusan dengan siapa jika media sampai tahu artisnya menghajar seorang Yoshimoto Takeru, pewaris Growrich Group.

“Laki-laki itu berdiri. Dan Kyuhyun memukulnya lagi.”

Wajah Jung Hoon semakin pucat. Mendengarkan suara Eunhyuk seperti reporter olahraga membuatnya merinding jika harus berurusan dengan polisi.

“Kali ini laki-laki itu membalasnya. Mereka berdua sama-sama tersungkur di lantai.”

Member lain bergerak gelisah. Menunggu Eunhyuk mengabarkan kejadian di dalam ruang ganti sama menegangkannya dengan menunggu pembacaan pemenang GDA. Mungkin lebih.

 

===

 

Kepalan tangan Takeru dengan kuat menumbuk rahang kanannya. Meninggalkan rasa nyeri yang tidak seberapa dibandingkan rasa bergolak yang mengiris-iris perutnya. Pria tinggi itu tersungkur tak lama setelah tubuhnya terjatuh ke lantai. Kini dua laki-laki itu terlihat menyedihkan.

“Sejak kapan kau kenal Minnie-chan?”

Takeru mengelap sudut bibirnya yang berdarah, akibat dua kali pukulan Kyuhyun yang bersarang tepat di wajahnya. Laki-laki itu meringis menahan perih saat jarinya menyentuh luka kecil itu.

“Dua bulan yang lalu.”

Takeru tersenyum getir. “Kau sungguh hebat. Bisa mengubah gadis aneh itu dalam waktu sangat singkat.” Kyuhyun menatap Takeru heran. Berusaha mengerti arah pembicaraan laki-laki itu, tetapi tetap saja tidak bisa.

“Datanglah jika kau memang menginginkan gadismu kembali.”

 

Kyuhyun menatap amplop merah yang masih tertutup rapi di sudut nakas kamarnya. Tidak ada pilihan lain selain membuka amplop itu jika Kyuhyun memang menginginkan sebuah jawaban yang nyata. Hanya ada dua pilihan. Membiarkan gadisnya benar-benar menghilang. Atau, membuatnya berada dalam jangkauannya lagi.

Amplop merah itu berisi tiga kertas. Dan Kyuhyun sudah sangat tahu kertas pertama yang diambilnya. Undangan Pernikahan. Satu hal lagi yang membuat laki-laki itu terperanjat.

‘Growrich Royal Wedding’

Bagaimana Kyuhyun tidak pernah menyadari ini? Itukah hal yang membuat Hye Min bersikap sedikit tidak wajar akhir-akhir ini? Bersikap seolah-olah dia begitu membenci hubungannya dengan Kyuhyun. Padahal sebelumnya semuanya baik-baik saja, seperti seharusnya.

Kyuhyun mencoba meraih kertas selanjutnya, kertas putih yang dilipat rapi dan rumit.

 

Aku menerima dengan senang hati ketika rasa ringan melayang itu menyerangku. Menghantam tubuhku saat aku menatapnya.

Dia adalah satu-satunya manusia yang bisa menyusupi otakku. Manusia yang bertahan dalam kepalaku dua tahun lamanya. Aku selalu suka menambah memori baru tentangnya. Sekedar mengisinya jika saja aku tidak bisa melihatnya lagi.

Tetapi, keberuntungan terbesar dalam hidupku adalah saat betapa sialnya hari itu aku harus meninggalkan rumah dan menyetujui perjanjian konyol yang ditawarkannya. Aku tidak perlu memikirkannya, sebenarnya. Karena bahkan hal itu tidak pernah muncul dalam imajinasiku.

Takdir memang memegang kendali penuh. Saat aku merasa semua akan membaik, sesuatu yang selalu aku takutkan terjadi. Takdir membuatku harus melepaskannya. Membiarkannya hidup dengan baik, sama seperti saat aku belum bertemu dengannya.

Meskipun aku tahu. Aku tidak bisa hidup sebaik dulu. Terasa perih lubang yang ditinggalkannya dalam dadaku. Dan aku tidak yakin akan hidup lebih baik lagi setelah ini.

Aku mencoba menipu diriku sendiri. Menganggap bahwa bertemu denganmu hanyalah sebuah mimpi. Mimpi yang membuatku tidak ingin terjaga.

 

Mata Kyuhyun terasa panas. Tidak mungkin jika laki-laki itu akan mengeluarkan air mata lagi. Matanya sudah kelewat bengkak saat ini. Dan mungkin juga persediaan air matanya sudah habis. Menggelikan? Memang. Akan terlihat menggelikan seorang laki-laki yang menangisi gadisnya sampai seperti ini. Dan Kyuhyun melakukannya.

Kertas terakhir semakin membuatnya sesak. Seperti ringga paru-parunya tersumbat dan sulit digunakan lagi.  Foto pertama mereka terlihat jelas dalam genggaman tangan Kyuhyun. Dan laki-laki itu tidak pernah menyangka jika gadis semacam Hye Min akan menyimpannya.

Satu hal yang baru disadari Kyuhyun. Bahwa Hye Min bukanlah gadis yang berusaha menghilang dari jangkauannya. Bahwa gadisnya juga menginginkannya, juga merasakan hal yang membuatnya bahagia dan sesak disaat bersamaan. Ini membingungkan. Haruskah dia merasa begitu senang atau malah merutuki nasibnya yang menyedihkan.

Semakin Kyuhyun mencoba menelaahnya, semakin kuat rasa dalam dirinya yang menginginkan gadis itu. Dan jalan yang paling nyata hanyalah mengambil gadisnya kembali, mendekapnya agar tidak menghilang lagi. Meskipun Kyuhyun tahu itu terdengar sedikit tidak masuk akal.

Kyuhyun dengan gerakan tergesa menyambar jaket di coat hanger dan menuju shoes storage. Tidak menghiraukan para member yang memperhatikannya penuh rasa ingin tahu. Yang hanya di otaknya saat ini hanyalah pergi menjemput gadisnya. Sebelum semuanya terlambat.

Yak! Kenapa kalian hanya diam saja? Cepat ikuti Kyuhyun. Jangan sampai dia terjun dari Seoul Tower karena ingin menghabisi hidupnya.” Eunhyuk menggerutu saat Ryewook dan Yesung malah terdiam kaku di tempatnya melihat Kyuhyun keluar apartement begitu saja. Sementara Sungmin sudah mengikat tali sepatunya dan siap mengejar maknae kesayangannya.

 

===

 

“Kau benar-benar datang?”

Takeru menyambut Kyuhyun didepan pintu besar berdaun ganda. Laki-laki itu terlihat menawan dengan tuxedo putih. Wajahnya terlihat bersinar, bahagia. Tentu saja, ini adalah hari pernikahannya.

Kyuhyun mengangguk tegas. Kemudian menatap pintu di balik pundak Takeru. Dan Takeru mengerti, mempersilahkan Kyuhyun masuk ruangan besar itu.

Kyuhyun menarik salah satu gagang pintunya. Melangkah lebih jauh kedalam sampai dia melihat seorang gadis berbalut gaun panjang terduduk di depan jendela kaca berpola rumit.

“Apa yang akan kau katakan lagi? Sudah kubilang, aku benar-benar ingin melakukan ini. Bisakah kau meninggalkanku?”

Suara gadis dengan gaun putih itu terdengar serak. Seperti suara kodok yang dulu sering ditirukannya saat mengejek gadis yang menangis karena patah hati. Apakah gadis itu sekarang juga patah hati dan menangis?

“Aku bisa melakukannya, Eru-ya! Pergilah.”

Gadis itu menggerakkan kepalanya saat orang yang membuka pintu tadi tidak menunjukkan respon sama sekali. Dan detik berikutnya, mata bengkaknya membulat sempurna saat melihat sosok Kyuhyun mematung di depan pintu.

“Seperti inikah caramu menghilang dariku?”

Kyuhyun berjalan menghampiri gadis itu, memperjelas pandangnya tentang apa yang tampak salah untuk matanya. Wajah gadisnya terlihat sendu. Hal yang tidak pernah dibayangkannya selama ini.

“Bagaimana matamu bisa begitu buruk? Bukankah ini adalah hari pernikahanmu?”

Sosok Kyuhyun sudah berdiri didepan gadis itu. Jemarinya yang panjang mulai meyusuri segaris alis gadis didepannya. Membelai pipinya yang masih bersemu merah muda. Dan mengusap sudut mata almond gadisnya yang tampak basah.

Gadis itu mengatupkan bibirnya kuat. Menahan perih yang bergolak dalam perutnya. “Kau juga terlihat sama buruknya denganku.” Suaranya yang serak menggesek gendang telinga Kyuhyun. Membuatnya dengan gerakan cepat menarik gadis dengan balutan gaun putih itu dalam dekapannya.

Kyuhyun merindukan ini. Wangi iris gadisnya. Rasa hangat dan tenang saat dia mendekap tubuhnya. “Bagaimana bisa kau hanya menganggapku sebagai mimpi?” Suara lirih Kyuhyun membuat gadis itu mendongak, manatap mata bulat Kyuhyun yang lagi-lagi berair.

Gadis itu tersenyum lemah. “Karena aku tidak bisa menjangkaumu dalam dunia nyata.”

Dalam hitungan sepersekian detik, Kyuhyun sudah menempelkan bibirnya pada bibir pucat gadisnya. Menahan kata-kata selanjutnya gadis itu yang tidak diinginkannya. Gadis itu tidak berontak, membiarkan Kyuhyun melepaskan segala amarah yang memenuhi dadanya. Membiarkan dirinya sedikit tenggelam dalam mimpi sebelum kembali dalam dunia nyata yang terasa mengerikan tanpa laki-laki itu.

 

===

 

EPILOGUE

Suara berisik dari dalam kamar itu membuat Ryewook memasang tampang masam. Bagaimana dia beristirahat jika makian dan umpatan bersaut-sautan dari satu jam yang lalu. Hal yang sedikit normal kembali memenuhi apartement mereka lagi. Dan sepertinya dia harus merelakan waktu istirahatnya berkurang.

“Kapan mereka bisa diam dan membiarkanku memejamkan mata? Aisshh…” Laki-laki mungil itu menenggelamkan kepalanya dibawah bantal besar. Berusaha menghalau suara memekakkan yang membuat telinganya berdenging.

Eunhyuk hanya terkekeh melihat Ryewook. “Sudahlah, bukankah itu jauh lebih baik daripada melihat Kyuhyun seperti mayat hidup?” Ujarnya santai tanpa meninggalkan antusiasmenya pada semangkuk ramyeon panas. Sesaat kemudian laki-laki itu berhenti, “tetapi aku masih sulit percaya.”

“Percaya tentang apa?”

“Mereka berdua. Bagaimana Kyuhyun bisa membatalkan pernikahan Hye Min dengan Takeru?” Bola mata Eunhyuk memutar. Seperti orang yang berpikir keras. “Dan bagaimana kedua pemilik Growrich Group itu bisa menerimanya?”

“Kenapa kau menguras tenaga untuk memikirkan mereka, hyung?” Ryewook mendengus keras. “Mereka berdua menyusahkan saat bertengkar, tetapi semakin menyebalkan jika seperti ini. Yang aku tahu hanyalah apartement ini akan kembali seperti neraka karena mereka berdua sudah bersama.”  Ryewook merinding ngeri membayangkan kedua orang itu mulai merusuh dan melakukan hal-hal aneh lagi. Seperti dulu. Seperti hari-harinya yang normal.

 

_THE END_

 

Iklan

Leave Your Comment ~~ ^^

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s